3 Modeling, Pendidikan Berbasis Nurani*
Tanggapan atas tulisan Iwan Triyowano
Selesainya UAN dan UAS (Sab'tu, 04 Mei 2008), merupakan kelegaan tiada tara bagi anak didik kita. Walaupun masih menunggu keputusan yang tidak pasti. Sebua kata "LULUS". Kata ini, bukan berarti tanpa makna. Tetapi, mutu dan paradigma masyarakt menilai pendidikan kita. Pentinggnya pendidikan hanya dinilai dengan satu lembar kertas. Hingga, tidak heran persoalan pendidikan di Indonesia mengalami pasang surut. Dalam proses menjari jati diri. Karena, pendidikan yang selama ini menjadi agenda penting pemerintah telah gagal menciptakan insan yang bernurani. KKN, yang semakin semarak, menjadikan pendidikan kita, perlu dikoreksi kembali. Untuk itu, pendidikan berbasis nurani menjadi semacam injektivikasi menciptakan manusia yang punya hati nurani.
Tulisan Iwan Triyowono (Sabtu, Jawa Pos 04 Mei 2008), mencoba menawarkan pendidika berbasis nurani, selangkah lebih maju. Modeling pendidikan yang tidak pernah diagendakan oleh pendidikan kita. Pendidikan yang dimaksudnya adalah, pendidikan berbasis nurani. Yang merupakan instrumen terbesar untuk berbicara kebenaran. Membentuk kesalehan sosial dan spiritual. Percikan cahaya Ilahi (got spot), yang peka terhadap realitas sosial. Padahal, yang mampu memperoleh percikan seperti ini hanyalah orang suci saja. Ketika disandingkan dengan "mentalitas" masyarakat kita, ibaratkan sebuah ujung yang satu sama lain saling menjauh. Maka, pendidikan nurani yang dimaksud Iwan perlu disederhanakan kembali. Untuk itu, perlu apa arti sesungguhnya pendidika berbasis nurani.
Penyederhanaan
Sederhananya, pendidikan adalah upaya untuk memperoleh suatu ilmu, atau pengetahuan. Sebuah masa peralihan dari ketidaktahuan menjadi tahu. Islam, sebagai solusi jitu untuk menciptakan pendidikan berbasis nurani, memberikan ruang lingkup terhadap pendidikan tidak kepalang tanggung. Meliputi semua elemen, dimensi ruang dan waktu. Di dalamnya, terdapat semangat pencapaian, semangat perolehan dan semangat pertanggung jawaban kepada Tuhan. Pertanggungjawaban ini, tidak terlepas dari kepekaan terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan, Demi kemaslahatan umah, yaitu untuk mendekatkan diri disisi-Nya.
Hadist populer, yang menyingkirkan diskriminasi gender, terhadap wajibnya untuk memperoleh pendidikan secara layak. "Wajib hukumnya mencari ilmu bagi seorang muslim dan muslimah" (baca: Ta’lim). Ini sangat transformatif, berangkat dari suatu semangat yang tinggi, ketimbang dalam problematika pendidikan sejarah bangsa ini. Memandang pentingnya pendidikan secara lebih sempit, terdikotomi, diskriminatif, atau kecenderungan-kecenderungan yang menyulitkan untuk memperoleh pendidikan secara layak. Dengan mahalnya biaya pendidikan, sulitnya mendapatkan pendidikan secara layak, dikotomi pendidikan. pendidikan yang terdikte, kurangnya penghargaan terhadap pengetahuan secara murni. Artinya, orang indonesia lebih mengharagai lembar izajah, ketimbang penguasaan terhadap pengetahuan. Sehingga menciptakan kesenggangan pemerataan untuk menuntaskan kebodohan, yang ujung-ujungnya merambat kepada kemiskinan.
Pendidikan dan kebodohan merupakan lingkaran setan. Yang sesekali-kali menjadi persoalan serius bangsa ini. Yang sekali-kali tidak juga diatasi. Hingga, memunculkan suatu budaya konsepsi, bahkan kecenderungan doktrinal. Yang layak mendapatkan hanya laki laki, atau orang yang mempunyai banyak materi (kaya). Selebihnya, perempuan hanya didomisilikan di dapur, di sumur dan di kasur. Yang miskin tidak usah sekolah, karena tidak ada biaya.
Ini, berada dalam koridor, bahwa pendidikan tidak diperuntukkan bagi siapa saja dalam segala aspek. Tetapi, nuansa politik, sosial budaya agama, ekonomi yang cukup melibatkan hingga batasan, sekat-sekat, bahwa pendidikan sesuatu yang tidak harus dicapai secara layak bagi siapa saja.
Suatu kesan formalitas, cukup mendominasi, bahkan dijadikan sebagai ajang prestise yang banyak di geluti orang. Bukan kepada semangat keilmuan. Tetapi, masih kepada semangat formil demi kepentingan-kepentingan dan meningkatkan simbol yang bernama prestise. Yang jauh dari skill education, dari apa yang menjadi perkembangan suatu bangsa. Kesadaran keilmuan inilah yang menjadi rintangan dalam pradigma berfikir masyarakat. Menjadi problem, serta peran pemerintah tak kunjung mengatasinya.
Islam sebagai Rahmatan lilalamin, memberikan improvisasi emosional, perolehan dalam pentingnya sebuah pendidikan. Lebih maju, dan setidaknya sebuah peradaban di nilai dari kausalitas membacanya, kata Muhiddin.
Semangat emosional dalam ujaran Islam pada seorang pelajar. Dengan memberikan keistimewaan ketimbang orang yang tidak menyandang status sosial sebagai pelajar. Ini yang nantinya membedakan kelas sosial. Padahal, Islam itu sendiri menukik, kita (pelajar) diibaratkan pelajar-pelajar yang abadi, yang kehausan di lautan ilmu Tuhan. Selebihnya, maut yang memisahkan. Di dalamnya menyangkut tiga komponen yang berdaya kuat, yang patut dihatikan. Ini, luput dari jangkauan pakar pendidikan kita.
Pertama, modelling tentang semangat emosional mencari ilmu, yaitu demi menghilangkan kebodohan. Seruan semacam ini sangat ditegaskan oleh Nabi, ”wajib hukumnya bagi laki-laki dan perempuan dalam mencari ilmu”. Ini merupakan sebuah upaya universal untuk memberikan suntikan emosional dalam semangat pecarian suatu ilmu. Menyingkirkan paradigma sempit yang mendarah daging. Siapa saja yang merasa dirinya menjadi bagian dari seruan itu, akan tampil dengan semangat kesadaran bahwa menuntut ilmu adalah hal yang paling krusial. Menyangkut tata hubungnan kosmos dan mikrokosmos. Ini terbukti bahwa, ketika Cina sebagai penemu pertama bahan kertas, Hingga dengan responsibitiy yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Nabi memerintahkan, “tuntutlah ilmu walupun ke negeri Cina.”
Tuntutan uzlah kepada negeri–negeri yang mempunyai peradaban tinggi, dan kompleksitas lebih tinggi dan memadai dalam terciptanya suatu peradaban (umran). Kesadaran keilmuan ini, banyak mengakar dalam tradisi intelektual Islam generasi awal. Dengan berbagai bidang keilmuan yang digeluti dan semangat ilmiah dalam kajiannya. Maka, tidak kepalang tanggung nabi menyerukan kepada para pelajar, bahwa tuntuntan ilmu berlaku bagi seseorang yang masih hidup di dunia ini, “carilah ilmu mulai dari belia hingga ke liang lahat (mati)”- suatu kata ekspansi dan indah dalam kontinuitas pencarian ilmu di setetes lautan ilmu Tuhan.
Modeling kedua, upaya membangun masyarakat yang berpengetahuan. Dengan berbagai upaya pendidikan kepada manusia secara global. Perolehan keilmuan semacam ini melalui jalur pengamalan dari perolehan terus-menerus, untuk menghilangkan kebodohan secara merata. Carilah, kemudian sebarkanlah (ajarkan) --memimjam bahasa ta’lim. Atau dalam bahasa alqur’an sendiri --tidak sepatutnya orang mukmin itu pergi semuanya kemedan perang, mengapa tidak pergi dari tiap –titap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi pengetahuan pada kaumnaya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat memberi peringatan. (al-Qur’an: at-Taubah 9: 122).
Modelling ketiga, yaitu upaya menyerap kebenaran ilmu yang di lahirkan dari sumber pengalana ini yaitu inteletktual, scienta sacra (pengetahuan suci) --mengutip istilah sayyed hossen nasr. Tidak lain, adalah pengetahuan suci yang berada dalam jantung setiap waktu, yang menjadi pusat dalam kungkungan. Ini, bukan dari sebuah spekulasi kecerdasan manusia saja. Tetapi, pengetahuan spritual yang ia sendiri bukanlah ciri inelektual. Dalam Islam, mereka yang tekun mencarni ilmu, lebih dihargai dari mereka yang beribadah sepanjang waktu. Kelebihan ahli (Al-Alim) dibanding dengan ahli ibadah (Al-Abid) adalah seperti kelebihan Muhammad atas seorang muslim yang paling lemah (Ghazali, Ihya Ulumud-Din, vol III hal :5). Itulah pengetahuna suci sebenarnya, yang mengantarkan pada haqiqi kebenaran yang diturunkan kepada manusia berupa akar pusat kecerdasan manusia yang pada akhirny berupa pengetahun substansi, atau substansi penegetahuan. Pengetahun tetang awal dan sumber pengeteahuan.
Seruan modernitas menjadi tantangan bagi masyarakat. Pengetahuan pada gilirannya lebih dekat kepada kompleksitas eksternal, dan terdesakralisasi khususnya bagi segmen segmen ras manusia yang di gials modernisasi. Ini yang membedkan sakralisasi pengetahuan dalam sejarah perjalann manusia mencari Tuhan dengan kekuatan Tuhan yang maha dahsyat (big wonder), dan seruan modernitas yang seakan bergelut dengan kekuatan yang tersembunyi (small merecle).
Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dengan dunia yang tidak terbatas dalam dirinya sendiri dan juga objektivitas dunia luar, memiliki batin, pengetahuan subjektif, sebagaimana pengetahuan tatanan objektif secara total. Padahal manusia di berkati dengan hadiah berharga yaitu intelegensi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar